RSS

Category Archives: Filsafat Ilmu

Tips Menulis Soal yang Baik

  1. Rumuskan pertanyaan sehingga tugas dapat didefinisikan dengan jelas oleh siswa. Kata-kata seperti mendiskusikan dan menjelaskan bisa bermakna ganda. Jika Anda menggunakan kata “mendiskusikan”, maka perjelas dengan memberikan petunjuk khusus tentang topik yang harus dibahas.Kurang Jelas: Diskusikan filsafat Karl Marx.Lebih Baik: Bandingkan Marx dan Nietzsche dalam analisis mereka tentang permasalahan yang mendasari masyarakat Eropa abad ke-19.Pertanyaan yang dinyatakan dengan jelas tidak hanya membuat siswa lebih mudah untuk menjawab, tapi juga membuat pengajar lebih mudah untuk menilainya.
  2. Untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap keseluruhan isi materi, sebaiknya menggunakan jumlah pertanyaan yang relatif banyak yang membutuhkan jawaban lebih pendek, bukan hanya beberapa pertanyaan yang memerlukan jawaban panjang.
  3. Hindari penggunaan pertanyaan pilihan pada soal esai. Jika ada lima pertanyaan esai dan siswa diminta untuk menjawab tiga dari mereka, maka ada sepuluh tes yang mungkin berbeda. Hal ini membuat sulit untuk membedakan antara siswa yang bisa merespon dengan benar untuk semua soal, dan siswa yang hanya bisa menjawab tiga soal. Penggunaan pertanyaan pilihan juga mempengaruhi konsistensi nilai. Jika kita akan membandingkan siswa untuk tujuan penilaian, maka semua siswa harus melakukan tugas yang sama. Masalah lain adalah bahwa siswa tidak perlu mempelajari semua materi jika mereka tahu akan memiliki pilihan dari pertanyaan yang diberikan.
  4. Untuk setiap pertanyaan, tunjukkan jumlah nilai yang akan diperoleh untuk jawaban yang benar. Jika waktu yang tersedia cukup singkat, siswa mungkin harus memilih pertanyaan untuk dijawab. Mereka akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memiliki nilai terbanyak.

Contoh Soal:

  1. Bandingkan filsafat barat pada abad pertengahan dengan abad modern!
  2. Jelaskan pembagian pengetahuan menurut Aritoteles dan pemikiran para penentangnya!
  3. Jelaskan aliran-aliran filsafat yang berkembang pada abad modern!

Sumber : “HOW TO WRITE BETTER TESTS”, http://www.indiana.edu

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 12, 2012 in Filsafat Ilmu

 

Lima Pertanyaan Disertasi

Lima pertanyaan yang perlu dijawab dalam sebuah disertasi adalah sebagai berikut:

  1. Permasalahan apa yang akan diselesaikan dalam disertasi Anda? Ini adalah inti dari penelitian disertasi Anda. Segala upaya yang Anda lakukan selama masa penelitian sebenarnya hanya untuk menjawab pertanyaan ini.
  2. Seberapa besar manfaat penelitian Anda? Apakah permasalahan tersebut belum diselesaikan oleh orang lain? Jika penelitian Anda kurang bermanfaat atau permasalahan sudah diselesaikan orang lain, maka Anda tidak perlu bersusah payah melakukan penelitian yang mubadzir. Alangkah baiknya jika Anda melakukan penelitian untuk topik lain yang lebih bermanfaat, atau melakukan penelitian dengan metode lain yang hasilnya lebih baik dari yang pernah dilakukan orang lain.
  3. Bagaimana cara Anda menyelesaikan masalah dengan penelitian Anda? Di sini Anda harus menjelaskan metodologi yang digunakan dalam penelitian Anda, termasuk data yang Anda gunakan dalam penelitian. Dalam sebuah penelitian, validitas data menjadi hal yang sangat penting. Karena data yang tidak valid tidak akan dapat memberikan hasil penelitian yang valid, meskipun mungkin teknik analisanya valid.
  4. Apa hasil penelitian Anda? Jelaskan hal-hal yang Anda temukan dalam penelitian dan analisa Anda atas hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Bandingkan dengan teori yang berkembang pada bidang ilmu terkait, termasuk penjelasannya jika hasil yang Anda peroleh berbeda dari konsep umum pada bidang tersebut.
  5. Apa kontribusi (dampak/implikasi) hasil penelitian Anda terhadap ilmu pengetahuan atau terhadap praktek yang dilakukan masyarakat? Hal ini untuk menegaskan bahwa hasil penelitian Anda memang memberikan kontribusi yang nyata bagi ilmu pengetahuan dan/atau bagi praktek kehidupan masyarakat secara luas.

Sumber: http://www.pendidikanislam.net

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2012 in Filsafat Ilmu

 

Kecerdasan

Beberapa ilmuwan mendefinisikan kecerdasan sebagai berikut :

  1. Kemampuan mental yang meliputi kemampuan untuk berpikir, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami ide-ide yang kompleks, belajar dengan cepat dan belajar dari pengalaman. Bukan hanya mempelajari buku atau keterampilan akademis yang sempit. Sebaliknya, itu mencerminkan kemampuan yang lebih luas dan lebih dalam untuk memahami lingkungan kita dan mengetahui apa yang harus dilakukan. (Mainstream Science on Intelligence, 1994)
  2. Setiap individu berbeda dengan individu lainnya dalam kemampuan untuk memahami masalah yang komplek, beradaptasi secara efektif dengan lingkungannya, belajar dari pengalaman, terlibat dengan beberapa macam jenis pemikiran, mengatasi masalah dengan pemikirannya. Meskipun perbedaan individual ini cukup mendasar, mereka tidak sepenuhnya selalu konsisten: kinerja intelektual seseorang akan berbeda pada kesempatan dan tempat lainnya. Konsep kecerdasan adalah upaya untuk menjelaskan dan mengatur rangkaian fenomena yang kompleks ini. (Intelligent: Knowns and Unknowns, 1995)

Pendekatan untuk memahami kecerdasan yang paling banyak dipublikasikan dan didukung secara luas selama periode waktu terpanjang adalah berdasarkan berdasarkan tes psikometri (IQ). Pengukuran kecerdasan dilakukan dengan menggunakan tes tertulis atau tes tampilan (performance test) atau saat ini berkembang dengan pengukuran dengan alat bantu komputer. Alat uji kecerdasan yang biasa dipergunakan adalah :

  • Stanford-Binnet intelligence scale
  • Wechsler scalesyang terbagi menjadi beberapa turunan alat uji seperti :
    • WB (untuk dewasa)
    • WAIS (untuk dewasa versi lebih baru)
    • WISC (untuk anak usia sekolah)
    • WPPSI (untuk anak pra sekolah)
  • IST
  • TIKI (alat uji kecerdasan Khas Indonesia)
  • FRT
  • PM-60, PM Advance

Namun demikian, uji kecerdasan ini tetap memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan dari alat uji kecerdasan ini adalah terdapat bias budaya, bahasa dan lingkungan yang mempengaruhinya. Kekecewaan terhadap tes IQ konvensional menimbulkan pengembangan sejumlah teori alternatif, yang semuanya menegaskan bahwa kecerdasan adalah hasil dari sejumlah kemampuan independen yang berkonstribusi secara unik terhadap tampilan manusia.

 
Leave a comment

Posted by on March 5, 2012 in Filsafat Ilmu

 

Proses yang Efektif

Efektif adalah pencapaian hasil yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Efektif ini berasal dari bahasa Latin, effectivus, yang berarti kreatif, produktif.  Dalam dunia informatika, proses yang efektif disinonimkan dengan komputasi yang efektif atau algoritma yang efektif.  Komputasi atau algoritma yang efektif dapat diukur dari berapa jumlah waktu dan ruang (space) memori yang dibutuhkan untuk menjalankannya dalam mencapai tujuan.

Untuk mendapatkan proses/komputasi yang efektif dapat dilakukan sejak tahap analisis kebutuhan.  Tahap analisis kebutuhan ini sangat penting, karena merupakan dasar dari tahap-tahap berikutnya. Tahap ini menghasilkan spesifikasi dari perangkat lunak yang akan dibangun. Spesifikasi yang ditulis dengan bahasa alami banyak memiliki kelemahan, karena spesefikasi yang ditulis dengan bahasa alami cenderung untuk kontradiktif, rancu, bermakna ganda, tidak jelas dan tidak lengkap.

Untuk mengatasi kelemahan bahasa alami dalam menulis spesifikasi dapat digunakan bahasa formal yang dibuat berdasarkan logika formal dan matematika, seperti teori himpunan, teori graf dan automata.  Bahas formal ini dapat digunakan untuk menspesifikasi dan memverifikasi sistem, baik perangkat keras maupun perangkat lunak.

 
Leave a comment

Posted by on March 5, 2012 in Filsafat Ilmu

 

Metode Deduksi dan Induksi

Ada bermacam-macam metode yang dilalui oleh proses ilmu untuk menuju kebenaran ilmiah, namun secara garis besar metode ilmiah biasanya terbagi kepada dua macam, yaitu : metode induksi dan metode deduksi.

Metode Deduksi

Metode deduksi adalah metode yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduksi yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduksi sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus (going from the general to the specific).

Contoh penggunaan metode deduksi pada pengetahuan Aljabar yang berkait dengan bilangan real a, b, dan c terhadap operasi penjumlahan (+) dan perkalian (.) yang didasarkan pada enam aksioma berikut:

1) tertutup, a + b  R dan a.b  R.
2) asosiatif, a + (b + c) = (a + b) + c dan a .(b . c) = (a . b) . c
3) komutatif, a + b = b + a dan a.b = b.a
4) distributif, a.(b + c) = a.b + a.c dan (b + c).a = b.a + c.a
5) identitas, a + 0 = 0 + a = a dan a.1 = 1. a = a
6) invers, a + (−a) = (−a) + a = 0 dan a.1/a = 1/a.a = 1 untuk a != 0.

Berdasar enam aksioma itu, teorema seperti −b + (a + b) = a dapat dibuktikan sebagai berikut:

− b + (a + b) = − b + (b + a) Aksioma 3 (Komutatif)
= (−b + b) + a Aksioma 2 (Asosiatif)
= 0 + a Aksioma 6 (Invers)
= a Aksioma 5 (Identitas)

Metode Induksi

Pendekatan induksi menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum (going from specific to the general).
Metode induksi ini banyak digunakan oleh ilmu pengetahaun, utamanya ilmu pengetahuan alam, yang dijalankan dengan cara observasi dan eksperimentasi. Jadi metode ini berdasarkan kepada fakta – fakta yang dapat diuji kebenarannya.

Berikut contoh penggunaan metode induktif berikut:

Mangga manalagi yang masih muda masam rasanya.
Mangga harum manis yang masih muda masam rasanya.
Mangga kopyor yang masih muda masam rasanya.
Mangga …. yang masih muda masam rasanya.
————————————————————————
Jadi, semua mangga yang masih muda masam rasanya.

Kesimpulan di atas bernilai benar karena sampai saat ini belum ada mangga yang masih muda yang tidak masam rasanya. Pernyataan itu akan bernilai salah jika sudah ada ilmuwan yang menghasilkan mangga yang tidak masam rasanya meskipun masih muda. Dengan demikian, hasil yang didapat dari induksi tersebut masih berpeluang untuk menjadi salah.

 
2 Comments

Posted by on February 20, 2012 in Filsafat Ilmu

 

Menyelami samudera ilmu para filsuf

Menyelami pemikiran para filsuf masa kini dengan membaca jurnal ilmiah yang mereka tulis.

Sudah 2,5 jam tapi baru 15 jurnal yang teridentifikasi, itu pun dengan sudut pandang yang bermacam-macam.  Masih ada ratusan jurnal yang siap diselami.

Subhanallah, sungguh luas ilmu Allah, tidak selayaknya manusia menyombongkan setitik ilmunya, apalagi jika dibandingkan dengan luasnya samudera ilmu Allah.

 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2012 in Filsafat Ilmu

 

Filsafat Genteng Bocor

Genteng bocor yang terjadi pada sebuah rumah dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Bahan baku gentengnya kurang baik sehingga mudah pecah atau tidak tahan lama
  2. Pemasangan genteng tidak sesuai kaidah baku, misalnya sudut kemiringan, bahan reng dan kaso, kerapihan dan sejenisnya
  3. Genteng pecah karena faktor eksternal, misalnya kejatuhan mangga, terkena lemparan batu atau bola
  4. Kurang hati-hati pada waktu membawa genteng dari toko bangunan dinaikkan ke truk, dibawa ke tujuan, hingga dipasang di atas rumah, sehingga ada genteng yang retak atau pecah.
  5. Pemilik rumah berperilaku jorok, seperti membuang sisa makanan pada sembarang tempat yang akan mengundang banyak tikus dan membawa makanan tersebut ke atap rumah, tikus-tikus ini menarik minat para kucing untuk mengejarnya, dan pada saat kejar-kejaran itu bisa jadi membuat beberapa genteng jadi melorot.

Sebuah kejadian bisa jadi disebabkan oleh banyak kejadian yang lain yang mungkin tidak terkait langsung. Oleh karena itu kita dituntut untuk tidak hanya melihat yang kasat mata saja, kita harus bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang tidak kelihatan yang membuat suatu kejadian dapat terjadi.

 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2012 in Filsafat Ilmu